Senin, 05 Oktober 2015

TENTANG PUNEN LABA'












 
Oleh : Laurensius, SH

Begitu banyak upacara atau pesta Adat di Mentawai, namun ada beberapa pesta adat yang luput dari perhatian generasi muda Mentawai. Salah satu contohnya adalah Punen Labak. Pesta adat ini akan dilaksanakan ketika benda-benda logam seperti ngong, dan benda-benda besi, seperti koalik, pariok, tegge, sikappak dibeli dengan cara barter kepada pedagang dan dibawa ke dalam Uma. Ketika tidak dilaksanakan Punen Labak, maka akan terjadi malah petaka bagi sipemiliknya. Kalau dalam bentuk mas kawin pihak laki-laki yang akan memberikan mas kawin kepada pihak perempuan, ketika belum dipestakan maka pihak perempuan akan menolak mas kawin tersebut karena takut roh jahat masih ada pada benda mas kawin itu. Pada suku Mentawai mas kawin itu berupa benda-benda seperti, kuali, periuk, parang, kampak, kain, tanaman dan ternak. Makanya setiap benda yang bermanfaat bagi kehidupan orang Mentawai akan dilakukan pesta adat agar hubungan antara benda-benda tersebut dengan Uma tetap harmonis.
Dalam pelaksanaan pesta adat tata cara ritual sangat sulit sekali karena penuh dengan pantangan-pantangan untuk menjaga diri agar tidak tercemar jiwa dan raga dari roh jahat. Setiap pantangan yang dilakukan jiwa semakin bersih dari segala hal-hal yang tidak baik. Makanya setiap dilakukan pesta atau ritual yang diutamakan adalah kebersihan jiwa dalam melaksanakan ritual.
Punen labak ini dikenal pada masyarakat adat di Sarereiket Kecamatan Siberut Selatan. Jika diartikan secara harafiah ke dalam bahasa Indonesia punen adalah “pesta” sedangkan labak adalahbesi yang berarti “pesta besi”. Tetapi makna yang terkandung sebenarnya adalah upacara ritual untuk menciptakan keharmonisan antara manusia dengan benda-benda yang bermanfaat bagi kehidupan secara turun temurun.
Menurut  kepercayaan Arat Sabulungan bahwa setiap benda memiliki roh yang diyakini oleh suku Mentawai. Roh ini akan menjadi sebuah kekuatan yaitu kekuatan jahat (bajou simakatai) dan kekuatan yang baik (bajou simaeruk).  Sifat kedua roh ini mempengaruhi dan menghuni jiwa manusia. Oleh karena itu setiap benda-benda baru yang masuk ke dalam Uma harus dilakukan pesta ritual agar kekuatan jahat pergi jauh atau hilang dan kekuatan yang baik pada benda-benda baru tersebut dapat menyatu dengan jiwa setiap anggota di dalam Uma sehingga dalam pemakaiannya  tidak terjadi mala petaka. Jika tidak dilakukan pesta dan ritual, setiap anggota Uma akan mengalami sakit selama pemakaian fasilitas baru yang terbuat dari besi tersebut dan bisa meninggal dunia.
Dahulu orang Mentawai sangat sulit mendapatkan benda-benda besi seperti kuali, periuk, parang, kampak dan lain-lain. Bagi mereka benda-benda seperti itu memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga merupakan suatu kekayaan yang luar biasa. Uma siapa yang banyak memiliki benda besi dianggap sebagai uma yang kaya. Pada dasarnya orang Mentawai tidak pernah mengenal benda besi, aluminium dan logam. Mereka mulai mengenal itu karena dibawa oleh para pedagang Minangkabau. Dari pedagang inilah mereka mendapatkan benda-benda besi dengan cara barter. Pedagang dahulu suka membarter barang dagangan dengan hasil hutan Mentawai, seperti rotan, manau, minyak kruing, keladi, pisang, sagu, madu dan damar.
Cara yang dilakukan untuk mendapatkan benda-benda logam dan besi adalah seperti yang disampaikan di atas yaitu membarter hasil hutan kepada pedagang. Pada awalnya mereka pergi ketempat pedagang untuk menanyakan apa saja yang bisa ditukar dengan dagangan sipedagang. Jika si pedagang menyatakan rotan dan berapa panjang serta jumlahnya untuk ditukar dengan satu buah kuali, maka kembali ke kampung atau di Uma akan dilakukan musyawarah untuk memutuskan mencari rotan selama satu minggu secara bersama. Panjang rotan yang diambil 4,5 m dan jumlah rotan sebanyak 100 batang dibarter dengan satu buah kualik. Sedangkan untuk membarter parang, periuk dan kain jumlah rotan 50 batang. Jika si pedagang ingin membarter dagangannya dengan isi sagu, maka sagu harus diolah menjadi isi sagu dan dimasukkan ke dalam kotak sagu yang terbuat dari daun sagu yang dirajut dan berbentuk bulat, panjangnya lebih kurang 1 (satu) meter. 
 Setelah rotan terkumpul di Uma secara bersama-sama pergi ke pedagang  untuk menjual rotan (barter) dan mengambil kuali, parang, kain, periuk, korek api, garam, rokok dan kampak. Para pedagang biasanya bermukim di muara Sungai. Jadi orang Mentawai biasa menyebut tempat pedagang adalah kamonga. Kira-kira lima hari di Muara baru kembali lagi ke kampung dengan membawa kuali, parang, periuk dan kampak.  Sampai di Uma mereka melakukan musyawarah lagi untuk mempersiapkan punen labak. Setelah diputuskan apa saja yang akan dilakukan selanjutnya, mereka mulai melaksanakan kegiatan mempersiapkan komsumsi punen, seperti keladi, sagu, pisang dan ikan selama dua minggu persiapannya, setelah itu baru dimulai upara adat. Dalam upacara ini, Sikautet Uma mencari daun-daun untuk digunakan dalam punen labak. Daun-daunan yang digunakan dalam punen labak ini adalah; aileleppet, mumunen, buah simakkainauk dan katcaila.

Ketika upacara dimulai semua benda-benda besi akan dikeluarkan dan dikumpulkan diruangan tengah Uma. Saat itu Sikautet Uma akan mendekati benda-benda tersebut dengan daun aileleppet dan mumunen ditangan Sikautet Uma akan menyentuh kuali, periuk, kampak dan parang sambil mengucapkankan sumpah. Adapun sumpah yang diucapkan Sikautet Uma adalah “Aileleppet, kuake’ manainu kina kalik, aileleppet, mumunen, kalik mai le maleppet tubu kuumunkai kuala’kai alei nu minca. Aileleppet, kuake’manainu kina pariok, aileleppet, mumunen, pariok mai le maleppet tubu kuumunkai kuala’ kai alei nu minca. Aileleppet, kuake’manainu kina tegge, sikappak aileleppet, mumunen, tegge samba sikappak mai le maleppet tubu kuumunkai kuala’ kai alei nu minca”. (daun Aileleppet disumpah agar menjadi penyejuk sesuai sifat aileleppet. Setiap benda yang dipakai akan muncul aura kesejukan. Maka sipemakai merasa bangga memakainya dengan disumpahkan daun mumunen).Kemudian Sikautet Uma meletakkan daun aileleppet di atas benda-benda tersebut dan juga kepada pemiliknya. Menurut kepercayaan orang Mentawai bahwa daun aileleppet merupakan simbol kesejukan, ketentraman dan keamanan dari roh-roh jahat dan daun mumunen melambangkan suatu kebanggaan tetapi sifatnya rendah hati. Selanjutnya, Sikautet Uma mengambil bunga Simakkainauk dan sambil mendekati benda-benda besi tersebut  mengucapkan sumpah. “Simakainauk! Neneneinu kina kalik, buat simakkainauk, simanene, kalik mai le manene tubu, kai le manene tubu”. “Simakainauk! Neneneinu kina pariok, tegge, sikappak, buat simakkainauk, simanene, kalik mai le manene tubu, pariokmai le manene tubu, tegge, sikappak mai le manene tubu, samba kai leu manene tubu masialak ekeu, masipakei ekeu”.(Simakkainauk merupakan simbol yang dingin melawan yang panas). Sikautet Uma mengambil katcaila kemudian mengucapkan sumpah.“Katcaila! Katcailam kina kalik, aisailaat ekeu simakatai nganga”. Aisailaan kai kaoringen, kasingu, kabolo. Katcaila! Katcailam kina pariok, kina tegge, kina sikappak, aisailaat ekeu simakatai nganga”. Aisailaan kai ka oringen, ka singu, ka bolo”.(Katcaila ini adalah sebagai penghadang hal-hal yang buruk)Semua dedaunan tersebut diletakkan di atas benda-benda besi dan juga diberikan kepada pemiliknya. Terakhir Sikautet Uma mengambil ayam yang telah disediakan di long yang terletak dibawah kolong Uma dan mengucapkan sumpah. “Gougouk! Liam kina kalik, sibebela, simaosa osa nganganda simakatai nganga, tak masilak kupakei kai ekeu”. Liam kina pariok, kina tegge, kina sikappak, sibebela, simaosa osa nganganda simakatai nganga, tak masilak kupakei kai ekeu. Irik (hati ayam) ai irikngan ekeu simakatai nganga”. (ayam merupakan simbol adanya pesta ritual).
Setelah upacara ritual,  maka dimulai lagi ritual punen tubu yang artinya untuk perlindungan tubuh terhadap roh-roh jahat. Dalam  punen  tubu ini  diambil ayam sebanyak jumlah orang yang mengambil kuali. Masing-masing ayam disumpahkan kepada setiap pemilik benda-benda besi. “ Liam sarainakku, aipateitei ekeu besik, oringan samba nganga simakai”. Kemudian Sikautet Uma akan bersumpah lagi kepada semua anggota Uma. “Lia mai sasarainakku, tatogakku, teitei goukgouk, aipeteiteian kai singu, koklo, nganga, roket. Setelah itu disumpah ayam itu sebagai berikut, “ Lepak le akulia ake ekeu kina goukgouk, kutele ake ekeu kaiba mai matat joja, alak amatat sabeu tubu, kut salounu kut laurum, gorosot bib! Silepa salou. Doroi ! Ngemet !Punen Tubu ini merupakan  merupakan simbol keselarasan antara punen labak dan punen tubu. Ayam dimatikan dan dimasak dikuali. Setelah masak dibagikan kepada setiap anggota Uma mendapatkan otcai, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, maupun remaja  akan mendapatkan bagian yang sama. Kemudian dilakukan makan bersama yang dipimpin oleh Sikautet lulak. Semua anggota Uma berkumpul di depan lulak, kemudian sikautet lulak mengambil sedikit hati ayamsambil meletakkan hati ayam diujung lulak, iamembacakan manteranya. “ irik!  irik mai sasarainakku, tatogakku. ai irikngan ekeu simakatai nganga. Kai le areu kabesik, ka bolo, kasingu, ka koklo. Kaoringen. Kai le magora tubu kasikutmai,  doroi ! Ngemet !”. Inilah salah satu nilai demokrasi dan keadilan pada diri orang Mentawai.
Setelah itu, besok harinya semua kaum laki-laki pergi ke gunung untuk berburuh yang dipimpin oleh Sipangunan. Setelah sampai di hutan, mereka istirahat dan kemudian Sipangunan melakukan ritual (buluakanen). Diambil sedikit tembakau, benang kain kemudian diletakkan diatas daun tumbuhan sambil mengucapkan manteranya. “ Kam silelengi seksek, leleu, ane' kakam abbinen mui, buluakenen mai sateteunu. Legre ake' simaggre silelek kapata, siepat rere, buik iareu katubu mai, konan... konan...konan..., ale ! Aikukruat iba !” Kemudian dilanjutkan kembali perjalanan. Jika berhasil mendapatkan buruan, Sipangunan akan memotong sedikit telinga kiri buruan tersebut dan melakukan ritual persembahan kembali. “ Kai sateteunu, anuake'an kam sitiddou mai, oto ane' kakam uruat mai katubu mui.” Setelah itu mereka menghiasi (masimanaiji) tubuh mereka, juga pada buruan tersebut akan memasangkan daun surak di badan mereka dan juga pada buruan agar roh buruan tersebut agar roh buruhan senang dan sebagai  lambang  ucapan terima kasih kepada Ulau Manua. Sampai di Uma dibunyikan tuddukat untuk menginformasikan kepada semua sanak famili untuk berkumpul. Juga sebagai tanda agar Uma lain menghormati  Uma yang sedang melaksanakan punen.  Acara pesta pun berlangsung, dan mereka akan melaksanakan ritual lagi mengenai buruhan baru untuk mengakhiri Punen Labak dengan cara mulajuk yaitu melakukan upacara buluakenen iba sibau (persembahan baru). Semua anggota Uma melakukan makan bersama dari hasil buruhan dan Sikautet Uma akan membacakan sumpahnya kembali. “Mukopkai simakatai bak pangisei, segek an”. (artinya apapun yang dimakan pesta sudah selesai dan tidak dalam berpantang lagi serta tidak akan ada sanksinya lagi). Dan akhirnya punen labak pun selesai.
Nilai Filosofis
·         Menghormati semua benda yang berguna bagi kehidupan kita.
·         Kita harus menghormati alam sebagai tempat hidup kita.
·         Demokrasi sangat penting dalam mengambil keputusan sehingga tidak terjadi perpecahan.
·         Keadilan perlu dijunjung tinggi karena bagaimana pun langit runtuh, keadilan harus
      ditegakkan.
·         Sikautet Uma, sipangunan dan sikautet lulak merupakan inspirasi bagi kita        dalam menjalankan tugas yang kita emban sekarang. Setiap tugas,     kewajiban, dan kewenangan harus dilaksanakan dengan benar. Sumpah             yang diucapkan jangan sampai ada kesalahan yang bisa mengakibatkan       fatal bagi seluruh anggota Uma. Tanggung jawab serta ketelitian         merupakan kunci dalam melaksanakan tugas.
Penutup
Dahulu kala, nenek moyang orang Mentawai, Setiap melakukan pesta adat memiliki kesakralan yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena berpantang, yaitu menjaga serta membersihkan diri pada hal-hal yang buruk. Namun kita sebagai generasi baru mulai mengabaikan budaya serta nilai-nilai istimewa di dalamnya yang sebenarnya sangat dibutuhkan saat terkini. Oleh karena itu mari kita secara bersama untuk melestarikan budaya kita agar kita menjadi orang Mentawai yang bijaksana.
Daftar kata
·         Ala' (ambil)
·         Ala' toga (mas kawin)
·         Alei (teman, sahabat)
·         Aileleppet (sebuah tanaman obat dan daunnya ada yang berwarnah merah dang hujau)
·         Bajou (kekuatan)
·         Ba' (jangan)
·         Bib (bunyi saat menanam sesuatu)
·         Bolo (penyakit)
·         Buluakenen (persembahan)
·         Doroi /roroi (terimalah)
·         Goukgouk (ayam)
·         Iba (ikan)
·         Irik (hati ayam)
·         Kina (wahai)
·         Koali' (kuali)
·         Kuala' (kuambil)
·         Kut (lakukan, kerjakan)
·         Kutele ake' (kusumpahkan)
·         Le (hanya, saja)
·         Lia (ritual)
·         Long (tempat ayam yang terbuat dari anyaman rotan dan berbentuk bulat. Dalam bahasa Mentawai             long ini adalah roiget sebagai tempat ayam)
·         Lulak (piring mentawai yang terbuat dari kayu dan panjang)
·         Mai (kami)
·         Matat (mata)
·         Manai (hiasan)
·         Manainu (hiasanmu)
·         Masimanaiji (menghiasi)
·         Minca (lagi)
·         Mukop (makan)
·         Nganga (mulut, kata-kata)
·         Ngemet (amin)
·         Ngong (gong)
·         Otcai (bagian/jatah)
·         Pariok (periuk)
·         Pangisei (heran)
·         Punen (pesta)
·         Punen Labak (pesta terhadap benda-benda yang bermanfaat bagi kehidupan agar tercipta  
      keharmonisan dalam pemakainnya)
·         Samba (dan)
·         Salou (ciri-ciri)
·         Sasarainakku (saudara-saudaraku
·         Sege’an (sudah sampai, sudah selesai)
·         Sibau (baru)
·         Silepa (yang sudah)
·         Sikappa' (kampak)
·         Simakatai' (yang jahat, yang buruk)
·         Simaeru' (yang baik)
·         Simakkainauk (sebuah tanaman yang warnanya hijau dan bunganya ada yang warnah putih
      dan merah. Tanaman ini merupakan obat yang digunakan oleh Sikerei)
·         Singu (ingus)
·         Silepa salou (yang sudah ditandai)
·         Sikautet Uma (kepala suku)s
·         Sikautet Lulak (kepala bagian pesta)
·         Sipangunan (kepala bagian pelaksana kegiatan)
·         Sikautet (kepala)
·         Tatogakku (anak-anakku)
·         Teitei (punggung)
·         Tegge (parang)
·         Tele (sumpah)
·         Tu'tut (ujung)
·         Tuddukat ( sebuah alat komunikasi yang terbuat dari kayu dan berjumlah tiga atau empat dan
      dilubangi tengahnya serta panjangnya bervariasi)
·         Uma (sebuah rumah yang berbentuk panggung dan panjang serta dihuni oleh beberapa
      keluarga dan menjadi pusat kegiatan suku)


Terima kasih
Juli, 2014
Penulis,
Note: Ceritera ini telah memenangkan perlombaan ceritera yang dilaksanakan oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai tahun 2014 dalam kategori Umum dan meraih juara I (satu).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar