Oleh
: Laurensius, SH
Begitu banyak upacara
atau pesta Adat di Mentawai, namun ada beberapa pesta adat yang luput dari
perhatian generasi muda Mentawai. Salah satu contohnya adalah Punen Labak. Pesta
adat ini akan dilaksanakan ketika benda-benda logam seperti ngong, dan
benda-benda besi, seperti koalik, pariok, tegge, sikappak dibeli
dengan cara barter kepada pedagang dan dibawa ke dalam Uma. Ketika tidak
dilaksanakan Punen Labak, maka akan terjadi malah petaka bagi
sipemiliknya. Kalau dalam bentuk mas kawin pihak laki-laki yang akan memberikan
mas kawin kepada pihak perempuan, ketika belum dipestakan maka pihak perempuan
akan menolak mas kawin tersebut karena takut roh jahat masih ada pada benda mas
kawin itu. Pada suku Mentawai mas kawin itu berupa benda-benda seperti, kuali,
periuk, parang, kampak, kain, tanaman dan ternak. Makanya setiap benda yang
bermanfaat bagi kehidupan orang Mentawai akan dilakukan pesta adat agar
hubungan antara benda-benda tersebut dengan Uma tetap harmonis.
Dalam pelaksanaan pesta
adat tata cara ritual sangat sulit sekali karena penuh dengan
pantangan-pantangan untuk menjaga diri agar tidak tercemar jiwa dan raga dari
roh jahat. Setiap pantangan yang dilakukan jiwa semakin bersih dari segala
hal-hal yang tidak baik. Makanya setiap dilakukan pesta atau ritual yang
diutamakan adalah kebersihan jiwa dalam melaksanakan ritual.
Punen labak
ini dikenal pada masyarakat adat di Sarereiket Kecamatan Siberut Selatan. Jika
diartikan secara harafiah ke dalam bahasa Indonesia punen adalah “pesta”
sedangkan labak adalah“besi” yang berarti “pesta besi”.
Tetapi makna yang terkandung sebenarnya adalah upacara ritual untuk menciptakan
keharmonisan antara manusia dengan benda-benda yang bermanfaat bagi kehidupan
secara turun temurun.
Menurut kepercayaan Arat Sabulungan bahwa setiap
benda memiliki roh yang diyakini oleh suku Mentawai. Roh ini akan menjadi
sebuah kekuatan yaitu kekuatan jahat (bajou simakatai) dan kekuatan yang
baik (bajou simaeruk). Sifat
kedua roh ini mempengaruhi dan menghuni jiwa manusia. Oleh karena itu setiap
benda-benda baru yang masuk ke dalam Uma harus dilakukan pesta ritual agar
kekuatan jahat pergi jauh atau hilang dan kekuatan yang baik pada benda-benda
baru tersebut dapat menyatu dengan jiwa setiap anggota di dalam Uma sehingga
dalam pemakaiannya tidak terjadi mala
petaka. Jika tidak dilakukan pesta dan ritual, setiap anggota Uma akan
mengalami sakit selama pemakaian fasilitas baru yang terbuat dari besi tersebut
dan bisa meninggal dunia.
Dahulu
orang Mentawai sangat sulit mendapatkan benda-benda besi seperti kuali, periuk,
parang, kampak dan lain-lain. Bagi mereka benda-benda seperti itu memiliki
nilai yang sangat tinggi sehingga merupakan suatu kekayaan yang luar biasa. Uma
siapa yang banyak memiliki benda besi dianggap sebagai uma yang kaya. Pada
dasarnya orang Mentawai tidak pernah mengenal benda besi, aluminium dan logam.
Mereka mulai mengenal itu karena dibawa oleh para pedagang Minangkabau. Dari
pedagang inilah mereka mendapatkan benda-benda besi dengan cara barter.
Pedagang dahulu suka membarter barang dagangan dengan hasil hutan Mentawai,
seperti rotan, manau, minyak kruing, keladi, pisang, sagu, madu dan damar.
Cara yang dilakukan
untuk mendapatkan benda-benda logam dan besi adalah seperti yang disampaikan di
atas yaitu membarter hasil hutan kepada pedagang. Pada awalnya mereka pergi
ketempat pedagang untuk menanyakan apa saja yang bisa ditukar dengan dagangan
sipedagang. Jika si pedagang menyatakan rotan dan berapa panjang serta
jumlahnya untuk ditukar dengan satu buah kuali, maka kembali ke kampung atau di
Uma akan dilakukan musyawarah untuk memutuskan mencari rotan selama satu
minggu secara bersama. Panjang rotan yang diambil 4,5 m dan jumlah rotan
sebanyak 100 batang dibarter dengan satu buah kualik. Sedangkan untuk membarter
parang, periuk dan kain jumlah rotan 50 batang. Jika si pedagang ingin
membarter dagangannya dengan isi sagu, maka sagu harus diolah menjadi isi sagu
dan dimasukkan ke dalam kotak sagu yang terbuat dari daun sagu yang dirajut dan
berbentuk bulat, panjangnya lebih kurang 1 (satu) meter.
Setelah rotan terkumpul di Uma secara
bersama-sama pergi ke pedagang untuk
menjual rotan (barter) dan mengambil kuali, parang, kain, periuk, korek api,
garam, rokok dan kampak. Para pedagang biasanya bermukim di muara Sungai. Jadi orang
Mentawai biasa menyebut tempat pedagang adalah kamonga. Kira-kira lima
hari di Muara baru kembali lagi ke kampung dengan membawa kuali, parang, periuk
dan kampak. Sampai di Uma mereka
melakukan musyawarah lagi untuk mempersiapkan punen labak. Setelah
diputuskan apa saja yang akan dilakukan selanjutnya, mereka mulai melaksanakan
kegiatan mempersiapkan komsumsi punen, seperti keladi, sagu, pisang dan ikan
selama dua minggu persiapannya, setelah itu baru dimulai upara adat. Dalam
upacara ini, Sikautet Uma mencari daun-daun untuk digunakan dalam punen
labak. Daun-daunan yang digunakan dalam punen labak ini adalah; aileleppet,
mumunen, buah simakkainauk dan katcaila.
Ketika upacara dimulai
semua benda-benda besi akan dikeluarkan dan dikumpulkan diruangan tengah Uma.
Saat itu Sikautet Uma akan mendekati benda-benda tersebut dengan daun aileleppet
dan mumunen ditangan Sikautet Uma akan menyentuh kuali, periuk,
kampak dan parang sambil mengucapkankan sumpah. Adapun sumpah yang diucapkan Sikautet
Uma adalah “Aileleppet, kuake’ manainu kina kalik, aileleppet, mumunen,
kalik mai le maleppet tubu kuumunkai kuala’kai alei nu minca. Aileleppet,
kuake’manainu kina pariok, aileleppet, mumunen, pariok mai le maleppet tubu
kuumunkai kuala’ kai alei nu minca. Aileleppet, kuake’manainu kina tegge,
sikappak aileleppet, mumunen, tegge samba sikappak mai le maleppet tubu
kuumunkai kuala’ kai alei nu minca”. (daun Aileleppet disumpah agar menjadi
penyejuk sesuai sifat aileleppet. Setiap benda yang dipakai akan muncul aura
kesejukan. Maka sipemakai merasa bangga memakainya dengan disumpahkan daun
mumunen).Kemudian Sikautet Uma meletakkan daun aileleppet di atas
benda-benda tersebut dan juga kepada pemiliknya. Menurut kepercayaan orang
Mentawai bahwa daun aileleppet merupakan simbol kesejukan, ketentraman
dan keamanan dari roh-roh jahat dan daun mumunen melambangkan suatu
kebanggaan tetapi sifatnya rendah hati. Selanjutnya, Sikautet Uma mengambil
bunga Simakkainauk dan sambil mendekati benda-benda besi tersebut mengucapkan sumpah. “Simakainauk!
Neneneinu kina kalik, buat simakkainauk, simanene, kalik mai le manene tubu,
kai le manene tubu”. “Simakainauk! Neneneinu kina pariok, tegge, sikappak, buat
simakkainauk, simanene, kalik mai le manene tubu, pariokmai le manene tubu,
tegge, sikappak mai le manene tubu, samba kai leu manene tubu masialak ekeu,
masipakei ekeu”.(Simakkainauk merupakan simbol yang dingin melawan yang
panas). Sikautet Uma mengambil katcaila kemudian mengucapkan
sumpah.“Katcaila! Katcailam kina kalik, aisailaat ekeu simakatai nganga”.
Aisailaan kai kaoringen, kasingu, kabolo. Katcaila! Katcailam kina pariok, kina
tegge, kina sikappak, aisailaat ekeu simakatai nganga”. Aisailaan kai ka
oringen, ka singu, ka bolo”.(Katcaila ini adalah sebagai penghadang hal-hal
yang buruk)Semua dedaunan tersebut diletakkan di atas benda-benda besi dan juga
diberikan kepada pemiliknya. Terakhir Sikautet Uma mengambil ayam yang
telah disediakan di long yang terletak dibawah kolong Uma dan
mengucapkan sumpah. “Gougouk! Liam kina kalik, sibebela, simaosa osa
nganganda simakatai nganga, tak masilak kupakei kai ekeu”. Liam kina pariok,
kina tegge, kina sikappak, sibebela, simaosa osa nganganda simakatai nganga,
tak masilak kupakei kai ekeu. Irik (hati ayam) ai irikngan ekeu simakatai
nganga”. (ayam merupakan simbol adanya pesta ritual).
Setelah upacara
ritual, maka dimulai lagi ritual punen
tubu yang artinya untuk perlindungan tubuh terhadap roh-roh jahat.
Dalam punen tubu ini
diambil ayam sebanyak jumlah orang yang mengambil kuali. Masing-masing
ayam disumpahkan kepada setiap pemilik benda-benda besi. “ Liam sarainakku,
aipateitei ekeu besik, oringan samba nganga simakai”. Kemudian Sikautet
Uma akan bersumpah lagi kepada semua anggota Uma. “Lia mai sasarainakku,
tatogakku, teitei goukgouk, aipeteiteian kai singu, koklo, nganga, roket. Setelah
itu disumpah ayam itu sebagai berikut, “ Lepak le akulia ake ekeu kina
goukgouk, kutele ake ekeu kaiba mai matat joja, alak amatat sabeu tubu, kut
salounu kut laurum, gorosot bib! Silepa salou. Doroi ! Ngemet !Punen Tubu
ini merupakan merupakan simbol
keselarasan antara punen labak dan punen tubu. Ayam dimatikan dan
dimasak dikuali. Setelah masak dibagikan kepada setiap anggota Uma mendapatkan otcai,
baik laki-laki, perempuan, tua, muda, maupun remaja akan mendapatkan bagian yang sama. Kemudian
dilakukan makan bersama yang dipimpin oleh Sikautet lulak. Semua anggota
Uma berkumpul di depan lulak, kemudian sikautet lulak mengambil
sedikit hati ayamsambil meletakkan hati ayam diujung lulak, iamembacakan
manteranya. “ irik! irik mai
sasarainakku, tatogakku. ai irikngan ekeu simakatai nganga. Kai le areu
kabesik, ka bolo, kasingu, ka koklo. Kaoringen. Kai le magora tubu
kasikutmai, doroi ! Ngemet !”. Inilah
salah satu nilai demokrasi dan keadilan pada diri orang Mentawai.
Setelah itu, besok
harinya semua kaum laki-laki pergi ke gunung untuk berburuh yang dipimpin oleh Sipangunan.
Setelah sampai di hutan, mereka istirahat dan kemudian Sipangunan
melakukan ritual (buluakanen). Diambil sedikit tembakau, benang kain kemudian
diletakkan diatas daun tumbuhan sambil mengucapkan manteranya. “ Kam
silelengi seksek, leleu, ane' kakam abbinen mui, buluakenen mai sateteunu.
Legre ake' simaggre silelek kapata, siepat rere, buik iareu katubu mai,
konan... konan...konan..., ale ! Aikukruat iba !” Kemudian dilanjutkan
kembali perjalanan. Jika berhasil mendapatkan buruan, Sipangunan akan memotong
sedikit telinga kiri buruan tersebut dan melakukan ritual persembahan kembali.
“ Kai sateteunu, anuake'an kam sitiddou mai, oto ane' kakam uruat mai katubu
mui.” Setelah itu mereka menghiasi (masimanaiji) tubuh mereka, juga pada
buruan tersebut akan memasangkan daun surak di badan mereka dan juga pada
buruan agar roh buruan tersebut agar roh buruhan senang dan sebagai lambang
ucapan terima kasih kepada Ulau Manua. Sampai di Uma dibunyikan tuddukat
untuk menginformasikan kepada semua sanak famili untuk berkumpul. Juga sebagai
tanda agar Uma lain menghormati Uma
yang sedang melaksanakan punen.
Acara pesta pun berlangsung, dan mereka akan melaksanakan ritual lagi
mengenai buruhan baru untuk mengakhiri Punen Labak dengan cara mulajuk
yaitu melakukan upacara buluakenen iba sibau (persembahan baru).
Semua anggota Uma melakukan makan bersama dari hasil buruhan dan Sikautet
Uma akan membacakan sumpahnya kembali. “Mukopkai simakatai bak pangisei,
segek an”. (artinya apapun yang dimakan pesta sudah selesai dan tidak dalam
berpantang lagi serta tidak akan ada sanksinya lagi). Dan akhirnya punen labak
pun selesai.
Nilai Filosofis
·
Menghormati
semua benda yang berguna bagi kehidupan kita.
·
Kita
harus menghormati alam sebagai tempat hidup kita.
·
Demokrasi
sangat penting dalam mengambil keputusan sehingga tidak terjadi perpecahan.
·
Keadilan
perlu dijunjung tinggi karena bagaimana pun langit runtuh, keadilan harus
ditegakkan.
·
Sikautet
Uma, sipangunan dan sikautet lulak merupakan inspirasi bagi kita dalam menjalankan tugas yang kita emban
sekarang. Setiap tugas, kewajiban, dan
kewenangan harus dilaksanakan dengan benar. Sumpah yang diucapkan jangan sampai ada kesalahan yang bisa
mengakibatkan fatal bagi seluruh
anggota Uma. Tanggung jawab serta ketelitian merupakan
kunci dalam melaksanakan tugas.
Penutup
Dahulu kala, nenek moyang orang
Mentawai, Setiap melakukan pesta adat memiliki kesakralan yang sangat tinggi.
Hal ini disebabkan karena berpantang, yaitu menjaga serta membersihkan diri
pada hal-hal yang buruk. Namun kita sebagai generasi baru mulai mengabaikan
budaya serta nilai-nilai istimewa di dalamnya yang sebenarnya sangat dibutuhkan
saat terkini. Oleh karena itu mari kita secara bersama untuk melestarikan
budaya kita agar kita menjadi orang Mentawai yang bijaksana.
Daftar kata
·
Ala'
(ambil)
·
Ala'
toga (mas kawin)
·
Alei
(teman, sahabat)
·
Aileleppet
(sebuah tanaman obat dan daunnya ada yang berwarnah merah dang hujau)
·
Bajou
(kekuatan)
·
Ba'
(jangan)
·
Bib
(bunyi saat menanam sesuatu)
·
Bolo
(penyakit)
·
Buluakenen
(persembahan)
·
Doroi
/roroi (terimalah)
·
Goukgouk
(ayam)
·
Iba
(ikan)
·
Irik
(hati ayam)
·
Kina
(wahai)
·
Koali'
(kuali)
·
Kuala'
(kuambil)
·
Kut
(lakukan, kerjakan)
·
Kutele
ake' (kusumpahkan)
·
Le
(hanya, saja)
·
Lia
(ritual)
·
Long
(tempat ayam yang terbuat dari anyaman rotan dan berbentuk bulat. Dalam bahasa
Mentawai long ini adalah
roiget sebagai tempat ayam)
·
Lulak
(piring mentawai yang terbuat dari kayu dan panjang)
·
Mai
(kami)
·
Matat
(mata)
·
Manai
(hiasan)
·
Manainu
(hiasanmu)
·
Masimanaiji
(menghiasi)
·
Minca
(lagi)
·
Mukop
(makan)
·
Nganga
(mulut, kata-kata)
·
Ngemet
(amin)
·
Ngong
(gong)
·
Otcai
(bagian/jatah)
·
Pariok
(periuk)
·
Pangisei
(heran)
·
Punen
(pesta)
·
Punen
Labak (pesta terhadap benda-benda yang bermanfaat bagi kehidupan agar
tercipta
keharmonisan dalam pemakainnya)
·
Samba
(dan)
·
Salou
(ciri-ciri)
·
Sasarainakku
(saudara-saudaraku
·
Sege’an
(sudah sampai, sudah selesai)
·
Sibau
(baru)
·
Silepa
(yang sudah)
·
Sikappa'
(kampak)
·
Simakatai'
(yang jahat, yang buruk)
·
Simaeru'
(yang baik)
·
Simakkainauk
(sebuah tanaman yang warnanya hijau dan bunganya ada yang warnah putih
dan merah. Tanaman ini merupakan obat
yang digunakan oleh Sikerei)
·
Singu
(ingus)
·
Silepa
salou (yang sudah ditandai)
·
Sikautet
Uma (kepala suku)s
·
Sikautet
Lulak (kepala bagian pesta)
·
Sipangunan
(kepala bagian pelaksana kegiatan)
·
Sikautet
(kepala)
·
Tatogakku
(anak-anakku)
·
Teitei
(punggung)
·
Tegge
(parang)
·
Tele
(sumpah)
·
Tu'tut
(ujung)
·
Tuddukat
( sebuah alat komunikasi yang terbuat dari kayu dan berjumlah tiga atau empat
dan
dilubangi tengahnya serta panjangnya
bervariasi)
·
Uma
(sebuah rumah yang berbentuk panggung dan panjang serta dihuni oleh beberapa
keluarga dan menjadi pusat kegiatan suku)
Terima
kasih
Juli,
2014
Penulis,
Note: Ceritera ini telah memenangkan perlombaan
ceritera yang dilaksanakan oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai tahun 2014 dalam
kategori Umum dan meraih juara I (satu).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar